Jumat, 31 Desember 2010

[BOOK REVIEW] "Jane Eyre" An Epic tale of Love, Secret and Passion




Charlotte Bronte, 1847, Jane Eyre

Jane Eyre actually is a book that written by female, the main character is female and mostly read by female. After I finished it, I realized that I loved it, I loved it and I loved it, I couldn’t help it, how could it be? Of course I'm not feminine. I just loved the character especially Jane Eyre, if there are women in this world like her, it would be great!

Jane Eyre, an epic love story and classic. One of my favorite books made by Charlotte Bronte that already made into a movie, the newest one is a mini serial with the same title “Jane Eyre” divided into 4 episodes. I won't talk about the movie, but the book. It's a big fat book, but if you read it you won`t stop before finished it.

Kamis, 04 November 2010

[MOVIE REVIEW] My Sister's Keeper (2009)

  


Director : Nick Cassavetes
Writer : Jodi Picoult (novel)
Cast : Abigail Breslin, Sofia Vassilieva, Cameron Diaz, Alec Baldwin

Kebanyakan anak dilahirkan tanpa maksud tertentu, berbeda dengan Anna (Abigail Breslin), usianya baru 13 tahun dia sudah menjalani beberapa kali operasi. Bukan karena dia sakit, melainkan karena Anna adalah donor tetap kakak perempuannya, Kate (Sofia Vassilieva ), yang mengidap leukimia akut sejak kecil. Seperti kebanyakan anak seusianya Anna mulai mempertanyakan haknya, hingga Anna mengambil suatu tindakan yang beresiko memecah belah keluarganya, bukan karena tidak menyayangi kakaknya, tetapi mempunyai maksud yang lain.

Minggu, 31 Oktober 2010

[MOVIE REVIEW] Mar Adentro / The Sea Inside ( 2004 )



Director : Alejandro Amenábar
Genre : Drama
Cast : Javier Bardem, Belén Rueda, Lola Dueñas

Film yang berdasarkan kisah nyata ini mengisahkan tentang Ramón Sampedro ( Javier Bardem ), seorang penderita quadriplegic / lumpuh total selama hampir 30 tahun, dan ingin mengakhiri hidupnya dengan legal tanpa harus membahayakan orang2 disekitarnya. Walaupun ingin mengakhiri hidupnya, selama 28 tahun Ramon dikelilingi keluarga yang sangat menyayanginya dan tidak menginginkan Ramon untuk mengakhiri hidupnya, termasuk kakak iparnya yang tetap menghargai keinginannya walaupun sebaliknya tidak ingin adik iparnya untuk mengakhiri hidupnya.

Rabu, 27 Oktober 2010

[MOVIE REVIEW] Lady Vengeance (2005)



Diawali dari Sympathy for Mr.Vengeance, lalu OLDBOY dan akhirnya Lady Vengeance yang merupakan film ketiga dari trilogy vengeance yang sekaligus sebagai penutup trilogy, Park Chan Wook berhasil menyelesaikan trilogi bertemakan vengeance. Seperti film2 sebelumnya film ini mendapatkan beberapa penghargaan baik lokal maupun internasional. Tidak seperti film sebelumnya (OLDBOY dan Sympathy For Mr.Vengeance), pesan yang disampaikan film ini tidak terlalu berkesan, berbeda dengan Sympathy for Mr.Vengeance yang menyampaikan pesan bahwa tidak ada orang yang benar2 buruk dan tak ada orang yang benar2 baik sedangkan OLDBOY memberikan pesan bahwa balas dendam hanya akan memberikan luka baru dan membuka luka lama. Walaupun begitu karakter utama dalam film ini bagi saya adalah karakter yang paling keren dan paling sangar dari film2 sebelumnya, dan bisa disejajarkan dengan karakter Beatrix Kiddo a.k.a The Bride a.k.a. Black Mamba dari film Kill Bill

Kamis, 21 Oktober 2010

[MOVIE REVIEW] OLDBOY (2003)



Seperti Film sebelumnya dalam TRILOGY VENGEANCE masih dengan tema yang sama vengeance, dengan cerita yang lebih kelam, tragis dan berbeda dengan Sympathy For Mr.Vengeance, OLDBOY tidak berlambat2, sebaliknya film ini menyajikan jalan cerita yang cepat sehingga relative mudah diterima banyak orang. Wlaupun dengan cerita yang lebih menarik OLDBOY menyajikan cerita yang bisa dibilang lebih fiksi dari Sympathy For Mr.Vengeance

Oh Daesu awalnya nampak seperti orang biasa yang suka mabuk-mabukan yang hidup seperti tanpa beban, setelah keluar dari kantor polisi, Oh Daesu yang ditangkap karena mabuk-mabukan tiba-tiba menghilang. Oh Daesu terbangun melihat dirinya terkurung didalam ruangan kecil yang mirip kamar hotel yang kecil, lengkap dengan kamar mandi dan TV, tanpa tahu menahu berapa lama, mengapa dan siapa yang mengurungnya.

Rabu, 20 Oktober 2010

[MOVIE REVIEW] Sympathy For Mr.Vengeance (2001)


Director: Park Chan – wook
Cast : Kang – ho Song, Ha – kyun Shin , Du – na Bae, Ji – eun Lim, Bo – bae Han


Ini adalah film pertama dari TRILOGY VENGEANCE, Sympathy For Mr.Vengeance oleh Park Chan – wook, ketiga film ini tidak seperti trilogy LOTR ataupun Trilogy Bourne yang setiap filmnya mempunyai cerita sambung menyambung, ketiga film dari TRILOGY VENGEANCE tidak mempunyai cerita yang saling nyambung tapi mempunyai tema cerita yang sama yaitu vengeance.

Mengisahkan tentang Ryu, pemuda tuna rungu dan tuna wicara yang ingin membantu kakaknya yang gagal ginjal dengan memberikan ginjalnya, tapi sayangnya dia tidak memiliki golongan darah yang cocok.

Minggu, 17 Oktober 2010

[MOVIE REVIEW] Let The Right One In (2008)


Director : Tomas Alfredson
Cast : Kare Hedebrant, Lina Leandersson, Per Ragnar, Henrik Dahl
Genre : Horror, Romance

Oskar (Kare Hedebrant) anak duabelas tahun penyendiri dan sering dijailin teman sekolahnya, karena takut dia tak pernah membalasnya. Suatu hari saat sedang memainkan belatinya yang ditusuk-tusukkan kesebuah pohon, Oscar bertemu seorang gadis yang sangat aneh(Eli), dan berkata bahwa mereka tidak bisa berteman. Keesokan Harinya Oscar bertemu lagi dengan gadis kemarin namun sangat aneh, dia tidak memakai mantel dan tidak merasa kedinginan padahal suhu pada saat itu dibawah 0°C dan bau badannya aneh (bau darah),Oscar mengajarinya cara bermain rubic cube. Akhirnya mereka menjadi lebih akrab dan saling menyukai.

Sabtu, 16 Oktober 2010

[MOVIE REVIEW] Groundhog Day (1993)


Phill Connor ( Bill Murray) adalah seorang reporter adalah seorang reporter ramalan cuaca yang mempunyai sifat buruk (dingin, sinis dan angkuh) dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Suatu hari ia ditugaskan bersama kameramen dan produsernya Rita ( Andie MacDowell ) untuk meliput acara Groundhog Day di kota Punxatawney. Setelah peliputan Phill yang merasa muak dengan kota itu segera bergegas pulang, namun sialnya badai salju menghadang perjalanan pulangnya, terpaksa Phill harus kembali ke hotel. Keesokan harinya Phill bangun di hari yang sama, dan tetap berulang-ulang di hari selanjutnya dia bangun dihari yang sama.

Film dengan cerita simple dan ringan yang menghibur namun unforgetable dan mengandung pesan moral yang mendalam agar menjadi manusia yang lebih baik.

8/10

Kamis, 14 Oktober 2010

[MOVIE REVIEW] In Bruges (2008)



Directed by          :Martin McDonagh
Genre                   : Komedy, Crime
Starring with         :Collin Farrel, Brendan Geelson and Ralph Fiennes

Dua orang pembunuh bayaran dikirim ke Bruges untuk menjalankan tugas, Bruges adalah kota di negara  Belgia. Ray (Collin Farrel) dan Ken (Brendan Geelson) menginap di sebuah hotel kecil selama 2 minggu sambil menunggu rincian tugas yang akan diberikan bos mereka Harry Waters (Ralph Fiennes) yang pemarah dan keras akan prinsipnya. Namun sebagai Pembunuh bayaran memang keduanya (Ray dan Ken) tidak nampak cool dan sangar, Ray nampak seperti manusia dewasa yang m empunyai sifat kekanak-kanakan apalagi saat diajak ke museum, sedangkan rekannya Ken seperti orang tua bijak yang suka seni dan bangunan bersejarah di kota Bruges

Nuansa Eropa Klasik yang disajikan di kota Bruges, membuat Ray serasa di neraka. Namun akhirnya Ray menyukai kota itu setelah menemukan gadis yang diperankan Clémence Poésy ( yang meranin Fleur Delacour di Harry Potter and the Goblet of Fire, poko’e maknyus).

Dilema dihadapi rekan Ray, Ken.  Ternyata dia harus membunuh rekannya sendiri karena telah melakukan kesalahan saat tugasnya. Apakah ken akan membunuh Ray?

Scoring2 permainan piano yang lirih membuat film ini seakan film yang depress, namun sebaliknya ini adalah film komedi. Yang bikin film ini lucu bukan adegan-adegannya namun lebih kepada tiga karakter utamanya Ray, Ken dan Harry, yang ditampilkan secara komikal sehingga tetap realistis dan tidak berlebihan. Film ini berhasil membuat emosi penonton naik turun hingga ane sendiri "NGAKAK TERHARU" liat ni film.

8/10


[MOVIE REVIEW] Where The Wild Things Are (2009)




 Max ( Max Record ) sebetulnya seperti anak biasa yang suka bermain dan berimajinasi. Seringnya berimajinasi mungkin dikarenakan tidak ada anak yang mau bermain dengannya, kakak dan ibunya pun sibuk dengan urusannya masing-masing. Hingga suatu malam max bertengkar hebat dengan ibunya hingga Max berlari keluar rumah tanpa arah dan tujuan jelas, hingga max menemukan sebuah perahu layar dan langsung menaikinya tanpa pikir panjang, Akhirnya Max berlabuh ke pulau yang dihuni makhluk-makhluk besar dan berbulu yang akhirnya mengangkat max menjadi raja mereka. 

Film yang diadaptasi dari buku anak-anak bergambar yang berjudul sama dengan filmnya karya Maurice Sendak. Film ini memang diadaptasi dari buku anak-anak, namun saya sedikit ragu apakah anak-anak mampu menangkap pesan yang dibawa oleh filmnya. Karena pesannya tidak ditunjukkan langsung oleh filmnya, sepintas film ini adalah film petualangan anak kecil kedunia fantasi tanpa maksud yang jelas, namun kalau lebih dicermati, tiap karakternya mempunyai maksud tersendiri. Adapun penampilan apik Max Record yang berperan sebagai Max menjadi juga menjadi salah sebab film ini menjadi drama fantasi yang bgus dan berkesan.



Film darama fantasi yang dirilis tahun 2009 ini, cukup layak unutuk ditonton
7,2/10 



Rabu, 13 Oktober 2010

[MOVIE REVIEW] Princess Mononoke / Mononoke Hime (1997)




Director: Hayao Miyazaki

Writer: Hayao Miyazaki

Film pertama Hayao Miyazaki yang saya tonton yang bikin saya nyari Film2 Hayao selain ini. Mononoke Hime / Princess Mononoke Film animasi yang mempunyai pesan moral yang salah satunya tentang lingkungan hidup.


Bermula dari seorang Pangearan bernama Ashitaka yang desanya diserang oleh seekor babi hutan yang berubah menjadi monster, pertarungan dengan babi tersebut menyebabkan tangan kanan Ashitaka menerima kutukan dari monster babi yang terbakar kebencian. Kutukan tersebut membuatnya harus mennggalkan desa tempat tinggalnya untuk mencari seseorang yang dapat menanggalkan kutukannya, sebelum kutukannya menyebar dan membunuhnya. Di tengah perjalanan dia bertemu dua orang terluka akibat serangan serigala yang dikendarai seorang wanita. Dua orang tersebut menghantarkannya ke sebuah kota yang merupakan tambang besi dan pabrik senjata apiyang dipimpin oleh Lady Eboshi. Pada malam harinya Ashitaka menyadari terdapat konflik antara penduduk hutan dengan penduduk Iron Town/Kota Besi.

Gambar2 pada film ini bisa dikatakan sangat bagus untuk buatan tangan. Walaupun animasinya digambar dengan banyak warna film ini terasa agak kelam dikarenakan cerita dan karakter yang agak menakutkan. 

Film yang baik,salah satunya harus mempunyai pesan moral yang disampaikan kepada penontonnya. Ini adalah contoh film yang baik, terutama untuk saat ini dimana pohon semakin hari semakin sedikit .Pokoknya film ini sangat baik untuk ditonton, namun hati-hati kalau nonoton sama anak-anak, salah satu scene nya ada yang agak mengagetkan.


7,8/10

Minggu, 10 Oktober 2010

[MOVIE REVIEW] Memento (2000)


Sutradara : Cristhoper Nolan
Genre : Drama,Crime
Cast : Guy Pearce



Christoper Nolan menjadi salah satu sutradara tersukses dalam 10 tahun terakhir, tidak ada film yang di sutradarainya merugi, bahkan Nolan mampu membuat film super hero terbaik sepanjang masa The Dak Knight.
Memento, film yang disutradarai Christoper Nolan yang diadaptasi dari cerpen saudaranya Jonathan Nolan. Berkisah tentang sosok Leonard Shelby/Lenny yang seorang penderita sort term memory/ anterograde amnesia dimana Lenny tidak bisa mengingat hal hal baru yang terjadi. Sehingga satu-satunya cara untuk mengetahui kejadian-kejadian yang telah dialami hanya melalui catatan-catatan, foto dan tato yang dimilikinya. Hal terakhir yang diingatnya adalah saat istrinya dibunuh dan diperkosa. Dengan petunjuk-petunjuk yang dimilikinya Leonard tersebut Leonard berupaya menemukan pelaku pembunuh istrinya.
Yang bikin film ini unik yaitu alur yang mundur maju mundur maju,bahkan di film ini nggak ada sebab-akibat adanya akibat-sebab, bagi yang nggak biasa nonton film dengan alur yang tidak lurus, di awal awal film agak membingungkan namun akan terbiasa setelah tahu apa maksud film ini. Untuk dapat mengerti Film ini disarankan untuk lebih cermat memperhatikan setiap scene. Walupun Film ini agak membingungkan, anda tidak perlu menonton lebih dari sekali untuk mengerti maksud cerita. Dan juga endingnya juga agak twisted.
Secara keseluruhan Film ini sangat saya rekomendasikan untuk ditonton.

8.1/10 

[MOVIE REVIEW] Grave of The Fireflies / Hotaru no Haka (1988)


Director: Isao Takahata
Writers: Akiyuki Nosaka (novel), Isao Takahata
Cast: Tsutomu Tatsumi(voice), Ayano Shiraishi(voice)


Grave of The Fireflies / Hotaru no Haka adalah film anti perang yang sangat berkesan dan bikin depress, bisa dibilang pesan2nya lebih ngena dibanding Schindler's List sekalipun. Di sini tidak ada adegan peperangan dan adegan berdarah yang kejam, hanya ada sepenggal cerita tentang dua orang kakak beradik yang berusaha mempertahankan hidup saat perang dan pasca perang.
Grave of The Fireflies menceritakan tentang kakak beradik Seita dan Satsuko yang menjalani kehidupan tragis dan menyedihkan dalam usaha mempertahankan hidup setelah kota dan rumah mereka rata dengan tanah setelah serangan bom Pesawat Amerika saat perang dunia 2 berlangsung. Kehidupan mereka berubah 180 derajat akibat peristiwa itu, mereka harus kehilangan orangtua dan tempat tinggal. Hingga harus  menumpang dirumah orang lain,dengan sisa uang yang dimiliki.
Keadaan perang yang semakin memburuk membuat mereka berpindah sebelum si tuan rumah mengusirnya. Kedua kakak beradik tersebut mememukan sebuah gua tempat pelindungan untuk akhirnya dijadikan tempat tinggal.
Cerita yang sangat simple dan realistis diubah Isao Takahata menjadi sebuah animasi hebat yang dapat menggugah hati setiap penontonnya.The most powerfull anti war film ever made.

8,5/10

Jumat, 01 Oktober 2010

[MOVIE REVIEW] Léon (1994)


Sutradara             : Luc Besson

Genre                   : Crime,  Drama, Thriller

Pemain                 : Jean Reno, Gary Oldman, Natalie Portman





Léon (Jean Reno ) seorang pembunuh Professional yang tertutup dan hanya mempunyai teman sebuah tanaman dalam pot  terpaksa harus mengurus gadis kecil 12 tahun bernama Mathilda ( Natalie Portman ) yang mengetuk pintu apartemennya saat seluruh keluarganya dihabisi anggota polisi korup yang dipimpin Stansfield ( Gary Oldman ) akibat masalah narkoba. Ingin balas dendam kepada pembunuh keluarganya, Mathilda memohon kepada Léon untuk mengajari kemampuannya, Sebagai gantinya Mathilda bersedia bekerja untuknya sebagai “pembantu” untuk mengurusi urusan sehari-hari. Saat itu hubungan ayah anak terjalin diantaranya .  Masuknya seorang Mathilda ke dalam rumah sakaligus dalam kehidupannya, merubah seluruh hidupnya.

Film produksi Prancis yang disutradarai sekaligus ditulis Luc Besson ini bisa disebut memorable film, yang paling berpengaruh adalah dari segi cerita dan atmosfer yang terjalin antara mathilda dan Leon membuat Film ini sangat emosional. Film ini juga adalah debut Internasional Natalie Portman sebagi seorang Aktris.

Hubungan antara Leon dan Mathida yang mempunyai perbedaan umr yang drastis dan tidak mempunyai hubungan darah apapun disalah artikan beberapa orang, karenanya versi yang ditayangkan di Amerika terdapat scene yang dipotong.

Ini adalah film crime drama  yang menyentuh dan sangat saya rekomendasikan untuk ditonton.
8,5/10 
 

Kamis, 30 September 2010

[MOVIE REVIEW] 12 Angry Men (1957)


Director                : Sidney Lumet
Genre                   : Drama,Mystery
Cast                     : Henry Fonda, Lee J. Cobb, Ed Begley

Seorang anak menjadi tersangka sebuah kasus pembunuhan tingkat satu terhadap ayahnya sendiri, lalu dituntut hukuman mati. Hakim mempersilakan 12 juri untuk berdiskusi apakah anak ini bersalah atau tidak, keputusan bersalah atau tidak harus berdasarkan keputusan bulat 12 juri .

Berdasarkan bukti dan saksi yang memberatkan tersangka, mungkin juri beranggapan tersangka bersalah karena telah membunuh ayahnya dengan kejam, namun disaat pengambilan keputusan ada salah seorang juri atau lebih tepatnya juri no.8 ( Henry Fonda ) tidak mengangkat tangan, bukan karena yakin bahwa tersangka mutlak  tidak bersalah, juri no.8 berkata bahwa tidak mudah untuk mengangkat tangan dan menghukum mati seorang anak tanpa di diskusikan terlebih dahulu. Paling nggak dia ingin mengajak kesebelas juri lainnya berbicara sebelum mengambil keputusan. Tindakan nya membuat jengkel juri lainnya yang menganggap hal tersebut membuang buang waktu di dalam ruangan yang sempit dan panas. Apakah juri no. 8 dapat melawan kesebelas juri lainnya ?Atau malah berubah pikiran ???
Dengan melihat tahun release nya dan medianya yang hitam putih, mungkin banyak orang terutama penonton muda yang menganggapnya jadul dan membosankan, terlebih lagi setting film ini sebagian besar  diambil di ruang yang sempit dan sesak oleh 12 orang yang mungkin orang sekarang asing dengan wajah-wajah mereka.

 Menurut saya ini adalah film dengan tampilan hitam putih terbaik yang pernah saya tonton sampai saat ini. Walaupun tanpa adegan yang wah!, cuma dengan dialog-dialog antar pemain, saya yang ngantuk diawal-awal menjadi melek. Hanya karena mendengar dialog-dialog antar pemain anda dapat membanyangkan kejadian-kejadian perkara pada film tersebut.

Film ini telah dibuat remake nya pada tahun 1990an dengan judul yang sama, walaupun saya belum nonton remakenya karena susah nyarinya, ya! namanya remake biasanya tidak sebagus yang asli.

Film ini saya beri nilai 9/10 karena bisa mengubah persepsi saya terhadap film klasik dengan media black and white